Postingan

BPJS KESEHATAN: Punya Atau Tak Punya Kartu Engkau Tetap Raja

Gambar
Setelah melempar senyum, Heni Mayangsari dengan cekatan mempersilakan Antonius Christian duduk di hadapannya. Masih dengan raut wajah semringah, Mayang, sapaan akrabnya giliran menawarkan diri untuk membantu proses pendaftaran periksa laki-laki asal Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo tersebut. Sebelum mulai mengotak-atik komputer, Mayang yang merupakan petugas Bagian Pendaftaran Poliklinik Rumah Sakit Dr. Oen Kandang Sapi Solo itu tak ketinggalan mempersilakan Fransisca Endah Lukito, istri Antonius untuk turut duduk di hadapannya. Setelah itu, barulah Mayang melakukan verifikasi berkas. Antonius mendaftar periksa di RS tipe B tersebut sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sesuai ketentuan, peserta BPJS yang ingin mengakses Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di RS tipe B diminta lebih dulu menunjukkan surat rujukan dari FKRTL RS tipe D/tipe C dan Kartu BPJS. Proses verifikasi tak berlangsung lama. Mayang tak perlu banyak menginput...

PROFIL: Satria Geliatkan Pemuda Karangasem

Gambar
Aksatria Pamursita Dipta atau akrab dipanggil Satria merupakan Ketua Forum Remaja Soropadan Karangasem (Foreska), Laweyan, Solo. Laki-laki yang keseharian bekerja sebagai marketing dan menjalankan usaha kedai susu itu gemar berorganisasi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Melalui Foreska, Satria tengah berupaya membentuk Soropadan menjadi kampung kreatif. Selain memberdayakan pelaku UMKM, alumnus jurusan Public Relations Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo tersebut ingin menyibukan para muda mudi Karangasem untuk aktif menggeluti berbagai kegiatan positif dalam program kampung kreatif. Satria ingin generasi muda mampu berbuat banyak hal dalam menguatkan dan mengangkat potensi daerah masing-masing. Dia mendorong para pemuda tidak hanya aktif nyinom (menjadi pelayan acara) dan mengikuti kerja bakti. Lewat Foreska, Satria berhasrat para pemuda  mampu mengembangkan kegiatan yang lebih inovatif dan produktif. Satria menerangkan pembentukan kampung kreatif secara ...

PROFIL: Utik Dulu Atlet, Sekarang Lurah

Gambar
Lurah Nusukan, Utik Sri Wahyuni, 44, punya pengalaman manis dengan dunia pencak silat. Saat masih menjadi mahasiswa Jurusan Pertanian di Universitas Brawijaya (Unbraw), Malang, dia pernah meraih medali emas dalam kejuaran nasional (Kejurnas) pencak silat SH Terate antar mahasiswa di Jember. Utik dipertemukan dengan sang suami juga karena mengikuti Kejurnas pencak silat SH Terate di Jakarta pada 1993 lalu. Saat itu Utik menjadi atlet wakil dari Malang sedangkan suaminya wakil dari Pontianak. "Saat Kejurnas di Jakarta saya tidak dapat medali, tapi dapat jodoh," kata Utik tersenyum saat berbincang di ruang kerjanya, Kamis (30/3) pagi. Perempuan kelahiran Ngawi, 5 Desember 1972 tersebut aktif mengikuti kegiatan pencak silat SH Terate sejak duduk di bangku kuliah. Dia aktif bergabung dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Setelah memutuskan menikah dengan Darminto, Utik tinggal di Pontianak sejak 1996 hingga 2003. Dari Pontianak, Utik l...

PROFIL: Sita Gemari Sejarah

Gambar
Agustina Dewi Sita Ratih, 44, begitu gemar mempelajari masalah sejarah. Alumnus Arsitektur Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo angkatan 1991 tersebut bahkan dengan sengaja telah mendirikan lembaga consortium for social education and transformation (Consent) untuk menularkan virus kecintaan sejarah kepada orang lain khususnya anak-anak muda. Dengan mempelajari sejarah, menurut dia, orang bisa belajar bagaimana cara menjadi lebih baik. Sita menceritakan lembaga Consent bergerak di ranah pemenuhan pendidikan kaum muda dan bidang kebudayaan. Dalam melaksanakan program, pegiat Consent banyak menggelar kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan sejarah. Dia bersama para pegiata Consent kerap menggelar diskusi membahas sejarah dan kebudayaan. Sita berharap bisa terus bisa berjuang untuk melakukan diseminasi cerita sejarah yang terlupakan atau hampir teracam ke masyarakat luas. "Sejarah penting untuk dipelajari. Jika tidak mengetahui sejarah bangsanya, rakyat tidak bisa berfikir ...

PROFIL: Haryanti Nyaman Jadi Pegiat HIV

Gambar
Sudah 11 tahun Haryanti, 40, mengabdikan diri sebagai pegiat HIV/AIDS di Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Solo. Dia menikmati perannya tersebut dalam membantu orang lain yang kurang beruntung karena terjangkit HIV/AIDS. Setelah sempat cukup lama aktif di lapangan, Haryanti kini mendapat amanah menjadi tenaga administrasi dan pengelola keuangan di KPA Solo. Dia sekarang lebih banyak berurusan dengan persoalan di dalam ruangan. Meski demikian, Haryanti beberapa kali tetap terjun ke lapangan. Dia kerap ikut dalam kegiatan para pendidik sebaya atau peer educator (PE) yang menjangkau pengidap HIV/AIDS maupun sejumlah komunitas berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Dengan mengetahui kondisi lapangan, Haryanti berharap bisa menyusun penganggaran program KPA dengan tepat. Dia tidak mau bagian penganggaran menjadi penyebab masalah program KPA kurang berjalan optimal. "Saya beberapa kali masuk ke hotspot berisiko tinggi tertular HIV/AIDS dengan dibersamai teman-teman pendidik sebaya. ...

PROFIL: Sri Sudarti Bangkit dan Mengadvokasi

Gambar
Pada usia 5 tahun, Sri Sudarti mengalami lumpuh layu setelah mendapat penanganan medis yang kurang tepat. Dia sempat kehilangan rasa percaya diri dan semangat untuk hidup karena tidak bisa lagi berjalan normal. Namun, Sri Sudarti beruntung mempunyai keluarga yang tidak pernah lelah memberi semangat kepada dirinya untuk bangkit dari keterpurukan. Berkat dukungan tersebut dia akhirnya mempunyaui tekad untuk bisa bersekolah di luar, tidak hanya direhabilitasi. "Saat usia 5 tahun, saya sempat panas tinggi kemudian disuntik ketika memeriksakan diri. Tidak tahu kenapa setelah itu saya jadi mengalami lumpuh layu atau polio. Rasa percaya diri saya sempat jatuh saat itu. Rasa sesal juga saya alami terus-terusan. Beruntung ada keluarga yang tidak lelah memberi semangat," kata Sudarti saat berbincang, Senin (9/10). Sri Sudarti kini telah berusia 41 tahun. Dia bahkan sekarang menjadi seorang ibu dari tiga orang anak. Dalam menjalani hidup, Sri Sudarti selalu ingat petuah dari ke...

PROFIL: Difan Raih Cita-Cita

Gambar
Menjadi seorang petugas pemadam kebakaran adalah cita-cita yang diimpikan Difan Labowe Epilinga sejak kecil. Dia ingin menjadi pemadam kebakaran karena terpicut dengan cerita yang diperoleh semasa masih kanak-kanak. Pemadam kebakaran digambarkan sebagai sebuah pekerjaan yang penuh wibawa karena berani menantang risiko demi menolong orang. Berkat semangat pantang menyerah, pemuda kelahiran Solo, 5 April 1995 tersebut kini mampu meraih cita-citanya itu. Difan sekarang resmi menjadi seorang pemadam kebakaran profesional di bawah komando Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Solo. Dia menjadi pemadam kebakaran dengan status sebagai tenaga kontrak dengan perjanjian kerja (TKPK) Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Untuk mencapai titik itu, Difan mesti mempersiapkan fisik dan mental yang kuat. Betuntung Difan telah menyukai lebih dulu aktivitas olahraga. Hal tersebut membantu dirinya dalam menjaga kebugaran tubuh. Soal mental, Difan memperkuat hati dengan cara ikhlas. Dia tak pernah merasa t...