Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Rabu, 16 Mei 2012

Konsep dan Teori Humanistik

Irawan Sapto Ody

Pengertin Teori Humanistik
Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. 
Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikologi humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan belajar. Jadi sekolah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme.

Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.

Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Teori Humanistik menurut Para Ahli
1. Pandangan Kolb mengenai belajar, yang teorinya terkenal dengan “ Belajar Empat Tahapnya. yaitu:
a. Tahap Pengalaman KonkretPada tahap paling awal peristiwa belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatukejadian sebagaimana rasanya. Namun dia belum memiliki kesadaran tentang hakekat dari peristiwa tersebut. Ia hanya dapat merasakan kejadian tersebut apa adanya,dan belum dapat memahami mengapa peristiwa tersebut harus terjadi. Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap paling awal dalam proses belajar.

b. Tahap Pengamatan aktif dan reflektif
Tahap kedua dalam peristiwa beajar adalah bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya. Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap kedua dalamproses belajar.

c. Tahap Konseptualisasi
Tahap ketiga dalam peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatian. Walaupun kejadian – kejadia yang diamati tampak berbeda – beda, namun memiliki komponen – komponen yang sama yang dapat dijadikan dasar aturan bersama.
d. Tahap Eksperimentasi aktif
tahap terakhir dari peristiwa belajar menurut Kolb adalah melakukan eksperimentasi secara aktif. Pada tahp ini seseorang sudah ammpu mengaplikasikan konsep – konsep, teori – teori atau aturan – aturan kedalam situasi nyata. Tahap – tahap belajar demikian dilukiskan oleh Kolb sebagai suatu siklus yang berkesinambungan dan berlangsung diluar kesadaran orang yang belajar. 
2. Pandangan Honey dan Mumford terhadap belajar
Honey dan Mumford menggolong – golongkan orang yang belajar kedalam empat macam atau golongan, yaitu:
a. Kelompok Aktivis
Orang – orang yang termasuk ke dalam kelompok aktivis adalah mereka yang senang melibatkan diri dan berpatisipasi aktif dalam berbagai kegiatan denagn tujuan untuk menambah pengalaman. Orang –orang yang seperti ini mudah untuk diajak berdialo, memiliki pikiran terbuka, dan menghargai pendapat orang lain. Namun mereka akan cepat bosan denagn kegiatan – kegiatan yang implementasinya memakan waktu lama.
b. Kelompok Reflektor
Mereka yang termasuk dalam kelompok reflektor mempunyai kecenderungan yang berlawanan dengan mereka yang termasuk kelompok aktivis. Dalam melakukan suatu tindakan, orang –orang tipe reflektor sangat berhati – hati dan penuh pertimbangan. Pertimbangan – pertimbanganbaik buruk dan untung rugi, selalu dipertimbangkan dengan cermat dalam memutuskan sesuatu. Orang – orang yang demikian tidak mudah dipengaruhi, sehingga mereka cenderung bersifat konservatif.
c. Kelompok Teoris
Tipetipe orang seperti ini adalah orang – orang yang teroris, mereka memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berfikir rasional dengan menggunakan penalarannya. Mereka tampak lebih tegas dan mempunyai pendirian yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
d. Kelompok Pragmatis
Orang tipe – tipe pragmatis,mereka memiliki sifat – sifat yang praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori – teori, konsep – konsep, dalil –dalil,dan sebagainya. Bagi mereka, sesuatu adalah baik dan berguna jika dapat dipraktekan dan bermanfaat.

3. Pandangan Habernas terhadap teori belajar
Pendapatnya sering disebut “tiga macam tipe belajar”, yaitu:
a. Belajar Teknis ( technical learning)Yang dimaksud belajar teknis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi denagn lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan ketrampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alamsekitarnya dengan baik. Oleh sebab itu, ilmu – ilmu alam atau sains amat dipentingkan.
b. Belajar Praktis (practical learning)
Belajar praktis adalah belajar bagaimana sesseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya yaitu dengan orang di sekelilingnya dengan baik. Mereka percaya bahwa pemahaman dan ketrampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Oleh karena itu,interaksi yang ebnar antara individudenagnlingkungan alamnya hanya akan tampak dari kaitan atau relevansinya dengan kepentingan manusia.
c. Belajar Emansipatoris
Belajar emansitoris menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang btinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural inilah yang leh habernas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi.
4. Pandangan Bloom dan Krathwohl terhadap belajar
Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum kedalam tiga kawasan yang dikenal dengan sebutantaksonomi Bloom, sebagai berikut:
a. Domain Kognitif, terdiriatas 6 tingkatan, yaitu:
1. Pengetahuan ( mengingat, menghafal)2. Pemahaman ( menginterprestasikan)
3. Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)
4. Analisis ( menjabarkan suatu konsep)
5. Sintesis ( menggabungkan bagian – bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
6. Evaluasi ( membandingkan nilai – nilai, ide, metode )


b. Domain Psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu :
1. Peniruan ( menirukangerak )
2. Penggunaan ( menggunakan konsep untuk melakukangerak )
3. Ketepatan ( melakukan gerak dengan benar)
4. Perangkaian ( melakukan beberapa gerakan sekaligus denganbenar )
5. Naturalisasi ( melakukan gerak secara wajar )
c. Domain Afektif, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:
1. Pengenalan ( ingin menerima,sadar akan adanya sesuatu )
2. Merespon ( aktif berpartisipasi )3. Penghargaan ( menerima nilai – nilai, setia kepada nilai – nilai tertentu)
4. Pengorganisasian (menghubung – hubungkan nilai – nilai yang dipercayai )
5. Pengalaman ( menjadikan nilai – nilai sebagai bagian dari pola hidupnya)

5. MenurutArthur Combs
Arthur Combs et al. menjelaskan bagaimana persepsi ahli-ahli psikologi dalam memandang tingkah laku. Untuik mengerti tingkah laku manusia ayang penting adalah mengerti bagaiman dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. Ahli psikologi menyatakan bahwa untuk mengubah tingkah laku seseorang harus mengubah persepsi individu. Combs menyatakan bahwa tingkah laku menyimpang adalah “akibat yang tidak ingin dilakukan, tapi dia tahu bahwa dia harus melakukan

6. Menurut Maslow
Maslow berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk tingkat yang paling rendah yaitu tingkat untuk bisa survive atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang paling penting. Jika kebutuhan ini terpenuhi maka ia akan mencari kebutuhan lainnya yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dicintai dan kebutuhan akan harga diri dalam kelompok mereka. Kemudian mencari kebutuhan yang lebih tinggi yaitu prestasi intelektual, penghargaan estetis dan akhirnya self actualization.
7. Menurut Rogers
Prinsip Belajar Humanistik Rogers
Pendekatan Rogers dapat dimengerti dari prinsip-prinsip penting belajar humanistik yang diidentifikasikan sebagi sentral dari filsafat pendidikannya
1) Keinginan untuk belajar
Dalam kelas yang menganut pandangan humanistik, anak diberi kebebasan untuk memuaskan keingintahuaan mereka, untuk mengikuti minat mereka yang tidak bisa dihalangi, untuk menemukan diri merka sendiri, serta apa yang penting dan berarti tentang dunia yang mengelilingi mereka.

2) Belajar secara signifikan
Belajar secara signifikan terjadi ketika belajar dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan tujuan siswa. Kita memberikan pandangan Combs bahwa belajar dibagi dua proses yang meliputi perolehan dari informasi baru dan menurut selera siswa. Jika siswa belajar dengan baik dan paling cepat, humanis menganggap ini adalah belajar secara signifikan.

3) Belajar tanpa ancaman
Rogers mengidentifikasi bahwa belajar yang paling baik adalah memperoleh dan menguasai suatu lingkungan yang bebas dari ancaman. Belajar dipertinggi ketika siswa dapat menguji kemampuan mereka, mencoba pegalamn baru, bahkan membuat kesalahan tanpa mengalami sakit hati karena kritik dan celaan.
4) Belajar atas inisiatif sendiri
Belajar atas inisiatif sendiri mengajar siswa untuk mandiri dan percaya diri. Ketika siswa belajar atas inisiatifnya, mereka mempunyai kesempatan untuk mebuat pertimbangan, pemilihan, dan penilaiaan. Mereka lebih tergantung pada diri mereka sendiri dan kurang tergantung pada penilaian orang lain. Dalam belajar atas inisiatif sendiri, belajar juga harus melibatkan semua spek seseorang, kognitif dan afektif

5) Belajar dan berubah
Prinsip akhir bahwa Rogers telah mengidentifikasi bahwa belajar yang paling bermanfaat adalah belajar tentang proes belajar. Belajar seperti waktu yang lalu tidak cukup lama untuk memungkinkan seseorang akan sukses dalam dunia modern. Apa yang dibutuhkan sekarang menurut Rogers, adalah individu yang mampu belajar dalam lingkungan yang berbeda.

Implikasi teori humanistik pada pembelajaran siswa
Semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasi dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri. 
Implikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Dalam teori ini, peran guru menjadi fasilitator dan memberikan motivasi kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negative. Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas kea rah mana ia akan berkembang.

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik sangat cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena social. Indikator keberhasilan implementasi adalah siswa merasa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori humanistik. Menurut teori ini, agar belajar bermakna bagi siswa, diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri.

Maka siswa akan mengalami belajar eksperiensial (experiential learning).
Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara eksplisit belum ada pedoman baku tentang langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan sebagai acuan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
b. Menentukan materi pelajaran.
c. Mengidentifikasi kemampuan awal (entry behavior) siswa.
d. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar.
e. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran. 
f. Membimbing siswa belajar secara aktif.
g. Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.
h. Membibing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
i. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi nyata.
j. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

Implementasi teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berpikir induktif. Teori ini juga sangat mementingkan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.

Daftar Pustaka
C. Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. 

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

http://novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15/teori-belajar-humanistik/ (diunduh pada hari Selasa, 25 Oktober 2011, 17.49)

http://www.scribd.com/doc/28892095/Teori-Humanisme (diunduh pada hari Selasa, 25 Oktober 2011, 17.58)

Kesimpulan
Kata Humanis sendiri telah tidak asing terdengar dalam telinga kita, dan bisa kita artikan dan pahami juga sebagai arti dari orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik atau berdasarkan asas perikemanusiaan. 

Jadi tidak jauh berbeda dengan Pengertian Teori Humanistik yang dapat disimpulkan juga sebagai sebuah teori dimana dalam pendidikan yang menekankan pada perkembangan positif, pada hidup yang lebih baik lagi, yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. 

Pengembangan kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.

Irawan Sapto Ody / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates